مَنْ أَكْشَرَ الْاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ
فَرَجَا، وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَ جًَا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْشُ لاَ
يَحْتَسِبُ
"Barang siapa yang memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan melegakan setiap kegundahan mereka, melepaskan setiap kesempitan mereka dan memberinya rezeki secara tak terduga."
(HR. Abu Dawud)
Induk Istighfar
"Ya Allah, Engkaulah Tuhanku! Tak ada yang patut disembah selain Engkau. Engkaulah yang menciptakan aku dan akulah hamba-Mu. Akan kutepati janjiku (kepada-Mu) dengan seluruh kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan-kejahatan yang telah kuperbuat. Aku mengakui di hadapan-Mu anugerah yang Engkau limpahkan kepadaku. Dan kuakui dosa-dosaku. Ampunilah dosa-dosaku. Karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosaku selain Engkau."
Doa diatas diriwayatkan oleh Saddad bin Aus yang meriwayatkan langsung dari Nabi Muhammad dan ditakhrij oleh Imam Bukhari dalam karya terkenalnya, Shahih Al-Bukhari.
Nabi Muhammad mengatakan bahwa doa diatas adalah seutama-utamanya doa untuk memohon ampunan Allah (sayyid al-istighfar). Dikatakan sayyid, menurut Ath-Thibi, karena mencakup makna secara global tentang taubat, berisi segala kebutuhan dan mengandung segala persoalan. Oleh karena itu bila seseorang yang membaca doa ini dengan keteguhan iman di waktu pagi hari, lalu meninggal dunia sebelum datangnnya malam, maka ia akan menjadi penghuni surga. Begitu juga bila ia membaca pada malam hari, lalu meninggal dunia sebelum datangnya siang, maka ia juga akan menjadi penghuni surga. Bahwa dalam riwayat Utsman bin Rabi'ah disebutkan secara tegas, ".... wajib baginya masuk surga." Begitulah hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari ini.
Ibnu Abi Jamrah mengomentari tentang doa ini: "Nabi SAW, menyusun kalimat di atas dengan gaya bahasa yang sangat indah dan redaksi yang sempurna. Layaklah kalau disebut sebagai sayyid al-istighfar. Karena, didalamnya ada pernyataan (iqrar) akan keesaan Allah SWT dan pengakuan hak penyembahan. Selain itu juga mengandung pengakuan bahwa Dialah sang Khalik, pernyataan akan pemenuhan janjinya kepada-Nya, hanya Dialah yang memberikan nikmat itu. Kemudian kesalahan dan doa ditujukan kepada dirinya sendiri; dengan demikian, dia mengharapkan ampunan-Nya dan menyatakan bahwa tiada satu pun yang berkuasa selain Dia."
Tampak sekali adanya dua komponen ajaran yang sangat mulia dalam doa di atas, yakni hakikat dan syariat. Taklif syariat tidak bisa terpenuhi tanpa adanya kemampuan dan takdir ini adalah termasuk hakikat. Jika seorang hamba berbuat sesuatu yang berbeda dan hal itu berlangsung begitu saja sesuai dengan takdirnya dan ia melakukan hal itu dengan alasan yang kuat, maka baginya hanya ada dua alternatif; mendapat hukuman sebagai wujud keadilan Tuhan berdasarkan pada janji-Nya, atau mendapat maaf karena ia mendapat karunia."

Komentar
Posting Komentar